oleh

Pelaku Pemerkosaan Anak Dibawah Umur di Aceh Divonis 16,5 Tahun Penjara

Foto ilustrasi pemerkosaan anak

LAYARSULTRA.COM, Banda Aceh – Terdakwa pemerkosa anak dibawah umur berinisial DP yang tak lain juga merupakan paman korban yang telah divonis bebas oleh Mahkamah Syariah Aceh (MSA), akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA).

Hakim Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 16,5 tahun penjara (200 bulan) kepada pelaku DP.

“Vonis bebas Mahkamah Syariah Aceh dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA), dan terdakwa dihukum 200 bulan penjara,” kata Ketua Mahkamah Syariah Aceh, Rosmawardani seperti dikutip dari Antara, Rabu (22/9/2021).

Baca Juga :  Hendak Mengantar Istri Orang, Pria di Bombana Menderita Luka-Luka Akibat Ditebas dengan Parang

Sebagaimana kasus yang divonis 200 bulan penjara tersebut diputuskan oleh MA lewat Putusan Kasasi Nomor 8 K/Ag/JN/2021.

Awalnya, DP yang merupakan paman korban divonis bersalah oleh Majelis Hakim Mahkamah Syariah Jantho dengan hukuman 200 bulan penjara atau 16,5 tahun.

Namun, pada tingkat banding, terdakwa divonis bebas oleh Mahkamah Syariah Provinsi Aceh. Putusan banding keluar pada 20 Mei 2021.

Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Aceh Besar melakukan upaya hukum kasasi ke MA.

Baca Juga :  Penasehat Hukum Akui Kliennya Menyerahkan Diri di Polda Sultra Usai Jadi Tersangka Dugaan Pengrusakan Lahan di Konsel

Rosmawardani mengatakan, dalam putusan kasasi, hakim menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pemerkosaan terhadap anak yang memiliki hubungan mahram, sebagaimana diatur Pasal 49 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014.

“Hukumannya di atas hukuman maksimal versi Undang-Undang Perlindungan Anak, yakni maksimal 15 tahun. Lalu, apa yang harus kita pertanyakan lagi dengan kewenangan menangani perkara anak di Mahkamah Syariah?” ujar Rosmawardani.

Baca Juga :  Kasus Penganiayaan dan Pemerkosaan Jadi Kasus Tertinggi di Wilayah Hukum Polres Konsel Sepanjang Tahun 2021

Kasus ini sebelumnya sempat heboh dan menjadi perbincangan hangat, lantaran terdakwa pemerkosa anak divonis bebas.

Menyikapi hal itu, Rosmawardani menjelaskan bahwa lembaga peradilan mulai dari Mahkamah Syariah tingkat kabupaten/kota hingga MA adalah satu kesatuan yang tidak bisa dikotomi.

“Maka, ketika putusan tingkat kasasi berbeda dengan tingkat banding atau tingkat pertama, hal itu merupakan salah satu bagian dari kebebasan hakim, dan dibenarkan oleh undang-undang,” tutupnya.

(Redaksi)

329

Tentang Penulis: Layar Sultra

Gambar Gravatar
Layarsultra.com merupakan salah satu media online yang berkedudukan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dan berada dibawah naungan PT. Mediatama Sejahtera Group. Tujuan didirikannya media online layarsultra.com adalah untuk memberikan informasi kepada publik melalui karya jurnalistik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed